Artikel Ilmu Fisika
Keterangan :
Kutipan langsung ==> merah
Kutipan tak langsung ==> kuning
Kemudian guru tadi bertanya, “bagaimana seumpama ada alat yang memecah atom menjadi lebih kecil lagi?” Tak ada satupun siswa yang mampu menjawabnya. Maklum, Fisika adalah pelajaran yang menakutkan siswa.
Guru Fisika saya menyampaikan, lebih dari satu abad yang lalu ahli fisika sudah mengkritisi, benarkah atom dapat disebut sebagai benda yang paling kecil? Betulkah ada sebuah benda yang disebut terkecil di dunia?
Atom adalah Atom adalah satuan dasar materi yang terdiri dari inti atom beserta awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya. Inti atom mengandung campuran proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan netral (terkecuali pada Hidrogen-1 yang tidak memiliki neutron). (J.J Thomson, 1906:106)
Saya yang sering tergagap-gagap mempelajari ilmu serumit Fisika menjadi bergairah mendengar uraian ini. Kami ikut berpikir, jangan-jangan yang terkecil itu masih bisa bisa dipecah dan dipecah lagi. Tuhan yang Maha menguasai alam, misteri apa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah benda?
Guru saya menguraikan, ketika ada pertanyaan mengenai adakah yang disebut “benda terkecil di alam raya ini”, logika Fisika “klasik” menemui jalan buntu. Bahkan di akhir abad 19 ketika para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk menginvestigasi benda-benda atom yang sangat kecil, mereka menemukan sesuatu yang membingungkan mereka sendiri dimana mereka tidak mampu memprediksi atau menjelaskan apa yang mereka temukan di laboratorium.
Satu abad kemudian penjelasan ilmiah mulai lahir untuk menjelaskan benda yang amat sangat kecil dan tidak terlihat lagi dengan alat apapun. Dan penelitian ilmiah itu terbukalah tabir dunia yang benar-benar baru yang dikenal dengan teori kuantum, yang kemudian melahirkan ilmu Fisika baru yang disebut Fisika Kuantum. Albert Einstein adalah salah satu tokoh Fisika Kuantum.
Seperti yang dikatakan oleh Max Karl Ernst Ludwig Planck (1858:8)bahwa Kimia kuantum adalah sebuah cabang kimia teori, yang menerapkan mekanika kuantum (dan belakangan ini teori medan kuantum) untuk menangani masalah dalam kimia. Penjelasan perilaku elektron pada atom dan molekul dalam kaitannya dengan kereaktifan adalah salah satu terapan kimia kuantum. Kimia kuantum terletak di perbatasan antara kimia dan fisika, dan sumbangan yang berarti telah dicapai oleh ilmuwan dari kedua bidang tersebut.
Benda terkecil yang makin tak jelas bentuknya itu bukan lagi berupa partikel melainkan berupa “ruang”, berupa kehampaan. Di dalam ruang itu adalah energi. Ia adalah quanta yang terdiri dari energi vibrasi. Dengan logika kuantum, apapun yang anda pegang, apapun yang berupa benda asalnya adalah kumpulan dari sesuatu yang “tidak berbentuk”, sesuatu yang “bukan benda”.
Ketika mempelajari fisika sampai level itu saya merasa lebih dekat dengan kekuasaan Tuhan. ”Keberadaan berasal dari kehampaan,” yang merupakan kalimat dari ilmuwan Fisika terasa seperti pernyataan tokoh agama.
Fisika klasik menjelaskan partikel benda, Fisika Kuantum menghasilkan bagian dari benda yang tak “berbentuk” lagi. Dalam Fisika Kuantum, urutan istilah yang digunakan untuk terlihat ke yang tak terlihat adalah benda, molekul, atom, partikel, quanta, energi vibrasi. Jadi apa yang kita pegang, apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan berasal dari sebuah energi.
Dalam Fisika Kuantum, semua benda pasti saling berhubungan, tidak ada tembok pemisah, tak ada pula ruang pemisah, karena hakekatnya semuanya kumpulan ”ruang-ruang” yang sangat mikro. (Halo para pembaca yang ahli Fisika, harap diluruskan jika uraian di atas kurang tepat).
Yang kemudian saya pahami, semakin halus sebuah benda, semakin besar energi yang dikandungnya. Contohnya bom nuklir (dari inti atom), lebih powerful dibanding bom atom, dan bom atom lebih hebat dibanding ledakan peluru.
Dimana hubungan uraian di atas dengan judul artikel ini? Hubungannya terletak pada logika kuantum pada kegiatan kita sehari-hari.
Semua yang terlihat berawal dari sesuatu yang tak terlihat. Kejadian yang kita lihat dan kita alami, adalah hasil dari sesuatu yang tak terlihat, yakni pikiran dan perasaan.
Penulis buku Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu, mengatakan, sama seperti kekuatan bom nuklir, kekuatan pikiran dan perasaan yang merupakan sesuatu yang tidak terlihat, memiliki kekuatan jauh lebih besar dari kekuatan tindakan fisik kita.
Apa yang kita alami saat ini adalah buah dari pikiran dan perasaan kita. Menurutnya, banyak hal yang membuat tindakan kita tidak efektif dan efisien akibat dari tidak sinerginya antara tindakan dengan pikiran dan perasaan.
Banyak orang bekerja merasa sangat lelah, karena tidak merasakan gairah dalam bekerja. Mereka melakukan sesuatu tanpa rasa ikhlas, bahkan sambil menggerutu. Pasti anda pernah merasakan betapa sulitnya kita mempelajari sesuatu karena kita ”merasa” dipaksa oleh dosen atau guru. Sebaliknya, kita menjadi cepat sangat hafal cerita film kesukaan kita dalam waktu yang sangat singkat.
Seluruh isi alam adalah getaran vibrasi semata, kata Erbe Sentanu. Benda yang memiliki getaran vibrasi yang paling lambat adalah semua yang bisa diraba, dilihat, dikecap, dicium dan didengar. Dan benda yang getarannya paling cepat adalah realitas yang tidak tampak dan hanya bisa dirasakan seperti kebahagiaan, dan kasih sayang.
Pancaran kasih sayang dan kebahagiaan adalah cermin keikhlasan, yang akan sangat membantu setiap pribadi orang untuk memiliki lebih banyak kasih sayang dan kebahagiaan lagi. Sebaliknya pancaran kebencian akan melahirkan kebencian-kebencian berikutnya.
Semua benda yang tidak tampak seperti rasa ikhlas memiliki getaran vibrasi yang lebih cepat dan kuat yang punya pengaruh sangat kuat terhadap setiap tindakan dan hasil yang kita capai. Barang siapa terampil menggunakannya akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Kata kuncinya, bila anda ingin memiliki kekuatan besar untuk meraih cita-cita, bekerjalah dengan energi ikhlas.
like ;))
ReplyDelete